Kecerdasan Emosi Membuat Sukses dan Kehidupan Lebih Baik

Kecerdasan emosi (KE) adalah kemampuan untuk menyadari, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Kecerdasan emosi yang tinggi dapat membantu kita untuk:

  • Membangun hubungan yang lebih baik
  • Mengelola stres
  • Mengambil keputusan yang lebih baik
  • Meningkatkan produktivitas
  • Meningkatkan kesehatan mental

Orang dengan KE yang tinggi cenderung lebih sukses dalam kehidupan pribadi dan profesional. Mereka juga cenderung lebih mampu menghadapi stres dan tantangan dalam hidup.

Orang dengan KE juga dapat menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua dengan cara berikut:

  1. Meningkatkan komunikasi dan pemahaman antarpribadi. Orang dengan KE yang tinggi lebih mampu berkomunikasi dengan jelas dan efektif. Mereka juga lebih mampu memahami dan menghargai perspektif orang lain. Hal ini dapat membantu meningkatkan komunikasi dan pemahaman antarpribadi, yang dapat mengarah pada hubungan yang lebih harmonis dan produktif.
  2. Menyelesaikan konflik secara damai. Orang dengan KE yang tinggi lebih mampu mengelola emosi mereka dengan baik. Hal ini dapat membantu mereka untuk menyelesaikan konflik secara damai dan konstruktif.
  3. Membangun komunitas yang lebih kuat. Orang dengan KE yang tinggi lebih mampu membangun dan memelihara hubungan yang sehat. Hal ini dapat membantu mereka untuk membangun komunitas yang lebih kuat dan saling mendukung.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana KE dapat menciptakan dunia yang lebih baik:

  1. Seorang pemimpin dengan KE yang tinggi dapat menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Mereka dapat memahami dan mengelola emosi mereka sendiri, serta memahami dan menghargai emosi karyawan mereka. Hal ini dapat membantu mereka untuk membangun tim yang solid dan mencapai tujuan bersama.
  2. Seorang orang tua dengan KE yang tinggi dapat mendidik anak-anak mereka dengan lebih efektif. Mereka dapat memahami dan mengelola emosi anak-anak mereka, serta mengajarkan anak-anak mereka cara mengelola emosi mereka sendiri. Hal ini dapat membantu anak-anak untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang bahagia dan sukses.
  3. Seorang aktivis dengan KE yang tinggi dapat menggerakkan perubahan sosial. Mereka dapat memahami dan menanggapi emosi orang lain, serta berkomunikasi dengan jelas dan efektif. Hal ini dapat membantu mereka untuk membangun koalisi dan mencapai tujuan mereka.

KE adalah keterampilan yang dapat dipelajari dan ditingkatkan. Ada banyak sumber daya yang tersedia untuk membantu orang-orang mengembangkan KE mereka, termasuk buku, artikel, kelas, dan pelatihan. Anda bisa mengikuti pelatihan atau mengikuti kursus online yang dibimbing pemateri yang ahli dan atau memiliki sertifikat.

Mari mulai dari diri sendiri, lalu tularkan ke orang-orang di sekitar kita. Mari menjadi praktisi kecerdasan emosi untuk meningkatkan kualitas hidup kita dan orang-orang di sekitar kita. Dengan menjadi praktisi kecerdasan emosi, kita dapat menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua.

Jika Anda tertarik mempelajari teknik kecerdasan emosi hubungi Soffy 082230862122.

Berikut adalah beberapa sumber referensi yang dapat digunakan untuk mempelajari lebih lanjut tentang KE:

Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ

Peter Salovey dan John D. Mayer, Emotional Intelligence: Theory, Findings, and Applications

Richard J. Davidson dan Sharon Begley, Emotional Intelligence: The Power to Master Your Moods, Your Relationships, and Your Life

Cerdas Emosi Agar Sehat Mental

Apa hubungan kecerdasan emosi dan sehat mental

Kecerdasan emosi (EQ) dan kesehatan mental memiliki hubungan yang erat. EQ adalah kemampuan untuk memahami, mengelola, dan menggunakan emosi kita sendiri dan orang lain secara efektif. Kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang baik.

Orang dengan EQ yang tinggi lebih mampu:

  • Memahami dan mengekspresikan emosi mereka sendiri
  • Mengelola stres dan tekanan
  • Membangun hubungan yang kuat
  • Membuat keputusan yang baik
  • Mengatasi tantangan

Kemampuan-kemampuan ini dapat membantu orang dengan EQ yang tinggi untuk:

  • Memiliki kehidupan yang lebih bahagia dan memuaskan
  • Membangun hubungan yang sehat
  • Berhasil dalam pekerjaan dan sekolah
  • Bertahan menghadapi stres dan tantangan

Secara umum, orang dengan EQ yang tinggi lebih cenderung memiliki kesehatan mental yang baik. Sebaliknya, orang dengan EQ yang rendah lebih cenderung mengalami masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, dan stres.

Berikut adalah beberapa contoh bagaimana EQ dapat mempengaruhi kesehatan mental:

  • Orang dengan EQ yang tinggi lebih mampu mengelola stres dan tekanan. Mereka dapat mengenali tanda-tanda stres dan tekanan, dan mereka memiliki strategi untuk mengatasinya.
  • Orang dengan EQ yang tinggi lebih mampu membangun hubungan yang kuat. Mereka dapat memahami dan menanggapi emosi orang lain, dan mereka dapat membangun kepercayaan dan empati.
  • Orang dengan EQ yang tinggi lebih mampu membuat keputusan yang baik. Mereka dapat mempertimbangkan emosi mereka sendiri dan orang lain ketika membuat keputusan, dan mereka dapat berpikir jernih di bawah tekanan.

Tentu saja, EQ bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan mental. Faktor-faktor lain, seperti genetika, lingkungan, dan peristiwa kehidupan, juga dapat berperan. Namun, EQ adalah faktor penting yang dapat membantu orang memiliki kesehatan mental yang baik.

Jika Anda ingin meningkatkan EQ Anda, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan, seperti:

  • Belajar mengenali emosi Anda sendiri.
  • Belajar mengelola emosi Anda secara sehat.
  • Belajar berempati dengan orang lain.
  • Perbanyaklah interaksi sosial.
  • Lakukan kegiatan yang Anda sukai.

Jika Anda mengalami masalah kesehatan mental, penting untuk mencari bantuan professional. Carilah yang berpengalaman sebagai praktisi kecerdasan emosi.  Jika Anda tertarik mempelajari teknik kecerdasan emosi hubungi Soffy 082230862122.

 

Live Your Best Life in 2024

Saat memasuki tahun 2024, kita perlu menjalani dengan tujuan dan kepuasan. Penting agar kita memberi kesempatan pada diri kita untuk menetapkan tujuan hidup yang realistis, penting juga mengambil tindakan nyata untuk mencapai tujuan tersebut, dan pentingnya menikmati prosesnya.

Hal ini bisa terjadi jika tujuan yang kita tentukan di tahun 2024 realistik, yakni dengan kesesuaian bakat dan talenta unik yang kita miliki, artinya sesuai kapasitas diri kita. Selain itu kita sediakan diri berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, serta memberikan dampak positif bagi dunia.

Tujuan tersebut perlu dibuat dengan konsep SMART:

Spesifik. Goal yang spesifik akan lebih mudah untuk dicapai. Misalnya, daripada mengatakan “Saya ingin menjadi kaya,” lebih baik mengatakan “Saya ingin memiliki penghasilan sebesar Rp100 juta per tahun.”

Terukur. Goal yang terukur akan membantu kita untuk mengukur kemajuan kita secara berkala. Misalnya, daripada mengatakan “Saya ingin langsing,” lebih baik mengatakan “Saya ingin menurunkan berat badan 5 kilogram dalam 1 bulan.”

Dapat dicapai. Goal yang dapat dicapai akan meningkatkan kepercayaan diri kita. Misalnya, daripada mengatakan “Saya ingin menjadi Gubernur,” sedangkan kita tidak punya lingkaran pengaruh sewilayah propinsi, lebih baik mengatakan “Saya ingin menjadi Manajer di tempat Kerja.”

Relevan. Goal yang relevan akan membantu kita untuk tetap fokus pada tujuan kita. Misalnya, daripada mengatakan “Saya ingin memiliki rumah mewah,” lebih baik mengatakan “Saya ingin memiliki rumah yang nyaman, lengkap dengan fasilitasnya.”

Memiliki waktu yang jelas. Goal yang memiliki waktu yang jelas akan membantu kita untuk tetap termotivasi. Misalnya, daripada mengatakan “Saya ingin menjadi pengusaha sukses,” lebih baik mengatakan “Saya ingin memiliki perusahaan sendiri dalam 5 tahun.”

Bayangkan nanti kehidupan yang Anda jalani penuh dengan:

1. Kegembiraan dan kebahagiaan: Mengalami rasa puas yang mendalam dan memancarkan energi positif yang menarik orang lain.

2. Percaya diri dan harga diri: Percaya pada diri sendiri dan kemampuan Anda, berdiri tegak dan menghadapi dunia dengan harga diri yang tak tergoyahkan.

3. Kedamaian dan ketahanan batin: Menghadapi tantangan hidup dengan anggun dan kuat, karena tahu bahwa Anda memiliki kekuatan untuk mengatasi rintangan apa pun.

4. Hubungan yang memuaskan: Nikmati hubungan yang mendalam dan bermakna dengan orang-orang terkasih, yang dibangun di atas kepercayaan, komunikasi, dan saling mendukung.

5. Tujuan dan makna: Temukan kontribusi unik Anda kepada dunia dan jalani hidup yang membuat perbedaan.

Oleh karena itu diperlukan kiat berikut :
Hidup berarti jika kita mampu menata diri
Hidup sukses jika kita mampu berberes diri
Agar hidup makin berlimpah rejeki

Tatanan diri adalah kondisi diri kita yang teratur dan rapi. Tatanan diri ini mencakup berbagai aspek, seperti fisik, mental, dan spiritual. Fisik yang teratur dan rapi akan membuat kita lebih sehat dan nyaman. Mental yang teratur dan rapi akan membuat kita lebih tenang dan fokus. Spiritual yang teratur dan rapi akan membuat kita lebih dekat dengan Tuhan dan memiliki tujuan hidup yang jelas.

Beres diri adalah kondisi diri kita yang bebas dari sampah, baik sampah fisik maupun sampah mental. Sampah fisik adalah benda-benda yang tidak terpakai atau sudah rusak. Sampah mental adalah pikiran-pikiran negatif, kecemasan, dan kemarahan. Beres diri dari sampah fisik dan mental akan membuat kita lebih ringan dan bebas.

Hidup berarti adalah hidup yang memiliki makna dan tujuan. Hidup yang berarti adalah hidup yang bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Hidup yang berarti adalah hidup yang dijalani dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Hidup sukses adalah hidup yang mencapai tujuan-tujuannya. Tujuan hidup dapat berupa tujuan pribadi, tujuan keluarga, atau tujuan masyarakat. Hidup sukses adalah hidup yang penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan.

Semoga 2024 makin berlimpah rejeki adalah harapan agar tahun 2024 menjadi tahun yang penuh dengan keberkahan dan kemakmuran. Rejeki tidak hanya berupa materi, tetapi juga kesehatan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Berikut adalah beberapa tips untuk menata diri dan berberes diri:

1. Fisik
Jaga kebersihan diri dan lingkungan, Olahraga secara teratur, Makan makanan yang sehat, Istirahat yang cukup

2. Mental
Pikiran positif, Fokus pada hal-hal yang baik, Bersyukur atas apa yang telah dimiliki, Memaafkan diri sendiri dan orang lain

3. Spiritual
Beribadah kepada Tuhan, Membaca Alkitab atau kitab suci lainnya, Berdoa, Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai spiritual yang sama.

Dengan menata diri dan berberes diri, kita dapat menjalani hidup yang lebih berarti dan sukses. Jika menemui kendala, hubungi penulis di sbalgies@gmail.com.

Penulis :
Soffy Balgies, M.Si Psikolog

Praktisi NLP, POY Level 1, akademisi, penulis buku, psikoterapis, Trainer CTC Therapy dan SEFT Total Healing

Therapeutic Photography: A Tool for Healing

Foto pribadi secara permanen merekam momen-momen penting sehari-hari (dan emosi terkait yang secara tidak sadar tertanam di dalamnya). Foto-foto tersebut dapat berfungsi sebagai jembatan untuk mengakses,mengeksplorasi, dan berkomunikasi tentang perasaan dan kenangan (termasuk terkubur dalam-dalam atau yang sudah lama terlupakan). bersama dengan masalah yang dialami.  Foto-foto yang dimiliki klien merupakan konstruksi diri simbolis yang nyata dan objek transisi metaforis, secara diam-diam menawarkan kepada mereka pandangan batin tentang hal-hal yang kurang jelas secara sadar atau secara verbal dapat diakses.

Di bawah bimbingan seorang terapis yang terlatih dalam teknik fototerapi, klien mengeksplorasi apa yang dimaksud dengan foto atau album keluarga mereka yang bermakna secara pribadi, secara emosional, selain apa yang mereka lihat secara visual. Bisa juga klien mengambil foto diri mereka sendiri atau lingkungan mereka secara teratur, dan kemudian menggunakan foto-foto tersebut untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaan mereka.

Dalam hal ini, foto pribadi dapat menyimpan informasi penting tentang diri seseorang, termasuk pikiran, perasaan, dan pengalaman klien, yang mungkin juga emosi yang tertekan. Informasi ini dapat digali melalui dialog terapeutik. Dialog terapeutik dapat membantu klien untuk mengeksplorasi informasi ini dan terhubung dengan alam bawah sadarnya. Dialog terapeutik secara langsung dan tidak langsung dapat membantu klien untuk lebih terbuka dan jujur tentang diri mereka sendiri. Hal ini dapat membuat klien lebih mudah untuk terhubung dengan alam bawah sadar mereka.

Contoh, seorang klien yang mengalami trauma mungkin memiliki foto yang menunjukkan mereka sedang tersenyum. Namun, ketika mereka berbicara tentang foto tersebut, mereka mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya merasa cemas dan tertekan. Dialog terapeutik yang lebih langsung dapat membantu klien untuk menyadari dan memunculkan perasaan mereka yang sebenarnya, yang selama ini ditahan atau disembunyikan.

Pelaksanaan Terapi Foto Pada Kasus Trauma

Klien menggunakan foto untuk menceritakan kisah atau mengekspresikan emosi. Seorang klien yang mengalami trauma mungkin membuat kolase foto untuk mewakili pengalaman mereka. Klien kemudian dapat menggunakan foto ini untuk berbicara tentang pengalaman traumatis mereka yang ingin disembuhkan atau dilenyapkan. Foto tersebut dapat membantu klien untuk melihat pengalaman mereka dari perspektif yang berbeda, dan untuk mulai memproses emosi mereka.

Seorang klien yang mengalami trauma diminta mengambil foto dirinya di tempat yang aman dan nyaman, seperti rumah atau pantai. Foto ini dapat membantu klien untuk mengingat atau membayangkan tempat tersebut, dan untuk merasakan perasaan aman dan nyaman yang mereka rasakan di tempat tersebut.

Pelaksanaan Terapi Foto Pada Masalah Emosi

Seorang terapis meminta klien untuk mengambil foto yang mewakili emosi tertentu, seperti kebahagiaan, kesedihan, atau kemarahan. Klien kemudian dapat menggunakan foto-foto ini untuk berbicara tentang bagaimana mereka mengalami emosi tersebut. Selanjutnya terapis meminta klien untuk membuat kolase foto yang menceritakan kisah terkait pengalaman yang menjadi sebab masalah emosi. Klien kemudian dapat menggunakan kolase ini untuk berbicara tentang makna kisah tersebut.

Seorang klien yang mengalami depresi mungkin mengambil foto diri mereka sendiri di cermin setiap hari untuk melihat bagaimana penampilan mereka berubah seiring berjalannya waktu.

Pelaksanaan Terapi Foto untuk Kelompok Terapi

Foto digunakan sebagai alat untuk memfasilitasi komunikasi dan berbagi pengalaman antara anggota kelompok. Foto dapat membantu anggota kelompok untuk terhubung satu sama lain, untuk memahami perspektif orang lain, dan untuk mengembangkan keterampilan koping yang lebih efektif. Klien menggunakan foto untuk berinteraksi dengan orang lain dan berbagi pengalaman mereka.

Sebuah kelompok terapi untuk orang dengan gangguan makan dapat bertukar foto makanan untuk membahas hubungan mereka dengan makanan.

Kelompok terapi untuk orang dengan depresi dengan diajak untuk mengambil foto-foto yang mewakili hal-hal yang membuat mereka bahagia. Mereka kemudian dapat menggunakan foto-foto ini untuk berbicara tentang bagaimana mereka meningkatkan suasana hati mereka.

Kelompok dapat diminta untuk mengambil foto-foto dari kehidupan sehari-hari mereka. Foto-foto ini dapat digunakan untuk membantu kelompok untuk melacak kemajuan mereka dan untuk melihat bagaimana mereka berubah seiring berjalannya waktu.

Kelompok juga dapat diminta untuk mengambil foto-foto yang menggambarkan situasi tertentu, seperti menghadapi ketakutan atau mengatasi tantangan. Foto-foto ini dapat digunakan untuk membantu kelompok untuk mengeksplorasi berbagai cara untuk menghadapi situasi tersebut.

Fototerapi adalah alat yang ampuh yang dapat membantu orang untuk mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka. Dengan berbagai teknik yang tersedia, fototerapi dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan individu.

 

Penulis : Soffy Balgies, Psikolog
Penulis Buku Desain Intervensi Psikologi, Psikologi Konseling dan Psikologi Umum
Pelatih : Terapi CTC, SEFT for Total Healing, Emotional Intelligence & Fototerapi
Praktisi POY (Point of You) Level 1, International Trainer Certified BSN KAN

 

WHY PHOTOTHERAPY IS NECCESSARY

WHY PHOTOTHERAPY IS NECCESSARY

Fototerapi secara umum digambarkan sebagai penggunaan fotografi, sebuah gambar visual, untuk komunikasi dalam proses terapi dan atau konseling. Teknik fototerapi sebagai metode yang akan meningkatkan komunikasi terapeutik dalam proses terapi dan konseling. Pendekatan terapeutik dalam fototerapi menggunakan foto pribadi dan album keluarga untuk membantu orang mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka.

Selain itu fototerapi juga bisa menggunakan foto pribadi orang lain, atau foto yang diambil oleh orang lain untuk menggali perasaan, ingatan, pikiran, keyakinan, dan informasi lain yang ditimbulkannya. Dalam perkembangannya, foto tidak terbatas pada foto kertas, media lain digunakan untuk membentuk citra fotografi apa pun, termasuk gambar digital format elektronik, video, DVD, atau film.

Sebagai pendekatan terapi, foto sebagai media membantu untuk memperdalam dan meningkatkan proses terapi, dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh kata-kata saja. Setiap jepretan yang diambil atau disimpan oleh seseorang, juga merupakan jenis potret diri, semacam “cermin dengan memori” yang memantulkan kembali momen-momen dan orang-orang yang cukup istimewa untuk dibekukan dalam selang waktu.

Secara kolektif, foto-foto ini memperlihatkan kisah-kisah yang sedang berlangsung terjadi pada kehidupan seseorang, berfungsi sebagai jejak visual yang menandai di mana mereka pernah berada (secara emosional dan secara emosional, juga secara fisik) dan juga mungkin menandakan ke mana mereka akan pergi selanjutnya. Bahkan reaksi mereka terhadap kartu pos, gambar majalah, dan foto yang diambil oleh orang lain dapat memberikan petunjuk yang menerangi kehidupan batin mereka sendiri dan rahasianya.

Makna sebenarnya dari setiap foto tidak terletak pada fakta visualnya, tetapi lebih pada apa yang detail yang ditimbulkan di dalam pikiran dan hati pada setiap pemirsanya. Saat melihat sebuah foto, orang secara spontan menciptakan makna yang mereka pikir berasal dari foto itu itu sendiri, dan ini mungkin atau mungkin bukan makna yang dimaksudkan oleh fotografer dalam menyampaikannya.

Dengan demikian, maknanya dan pesan emosional dari foto bergantung pada siapa yang yang melihat, karena persepsi dan pengalaman hidup yang unik dari setiap orang akan selalu secara otomatis akan membingkai. Selain itu dapat mendefinisikan apa yang mereka lihat sebagai sesuatu yang nyata. Oleh karena itu, reaksi orang terhadap foto yang menurut mereka istimewa sebenarnya dapat mengungkapkan banyak hal tentang diri mereka, jika saja jenis pertanyaan yang tepat diajukan.

Foto terapi bukanlah tentang menginterpretasikan foto orang lain untuk diri mereka, sebaliknya, masukan harus selalu datang dari klien. Dipandu oleh terapis dengan pertanyaan-pertanyaan yang dirangsang oleh foto, kemudian mengeksplorasi gambar, dan dampak emosionalnya. Ketika klien mendiskusikan lapisan makna yang terkandung dalam foto, mereka juga mengungkapkan banyak hal tentang diri mereka sendiri, tentang sistem nilai batin mereka, keyakinan keyakinan, sikap dan harapan yang tak terpisahkan yang menyertai kata-kata mereka. Pesan non verbal ini juga menyimpan petunjuk penting tentang bagaimana klien memahami dunia mereka dan tempat mereka di dalamnya.

Membuat foto, atau membawanya ke sesi terapi, hanyalah permulaan. Setelah foto tersebut dapat dilihat, langkah selanjutnya adalah mengaktifkan semua yang ada dalam pikiran, dengan mengeksplorasi pesan visualnya, berdialog dengannya, mengajukan pertanyaan, mempertimbangkan hasil perubahan yang dibayangkan atau sudut pandang yang berbeda, dan lain sebagainya.

Fototerapi adalah kumpulan teknik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien dan terapis. Teknik-teknik ini dapat digunakan oleh terapis dari berbagai latar belakang dan orientasi teoretis. Hal ini dikatakan Judy Weiser, seorang psikolog, terapis seni, konsultan, pelatih, penulis, yang merintis teknik fototerapi, pendiri dan direktur Pusat PhotoTherapy di Vancouver, serta Mantan Editor Jurnal PhotoTherapy.

Artinya, fototerapi adalah metode terapi yang fleksibel. Teknik-teknik fototerapi dapat disesuaikan dengan kebutuhan klien, seperti masalah yang dihadapi, tingkat usia, dan tingkat kemampuan fotografi. Fototerapi juga dapat digunakan oleh terapis dari berbagai latar belakang dan orientasi teoretis. Hal ini karena fototerapi tidak didasarkan pada satu teori atau paradigma tertentu.

Seorang terapis yang berorientasi pada teori psikodinamik dapat menggunakan fototerapi untuk membantu klien untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaan bawah sadar mereka. Terapis yang berorientasi pada teori perilaku dapat menggunakan fototerapi untuk membantu klien untuk mengembangkan keterampilan koping yang lebih efektif.

Selama sesi fototerapi, foto tidak hanya direfleksikan secara pasif dalam keheningan tetapi juga secara aktif dibuat, dipamerkan, dibicarakan, didengarkan, direkonstruksi, direvisi untuk membentuk atau mengilustrasikan narasi baru. Kemudian narasi baru ini dikumpulkan berdasarkan tugas, divisualisasikan kembali dalam memori atau imajinasi, diintegrasikan ke dalam ekspresi terapi seni, atau bahkan dibuat menjadi dialog animasi dengan foto-foto lainnya.

Hal ini memungkinkan klien untuk lebih menjangkau, memahami, dan mengekspresikan bagian diri mereka sendiri dengan cara yang tidak dapat direpresentasikan atau didekonstruksi sepenuhnya oleh kata-kata.

Jenis foto yang digunakan :

1) Foto yang telah diambil atau dibuat oleh klien, apakah menggunakan kamera untuk membuat gambar sendiri, atau mengambil gambar orang lain, mengumpulkan foto yang ditemukan dari majalah, kartu pos, foto di internet, manipulasi digital, dan sebagainya.

2) Foto yang telah diambil dari klien oleh orang lain baik berpose dengan sengaja atau diambil secara spontan tanpa disadari,

3) Potret diri, yang berarti segala jenis foto yang dibuat oleh klien untuk diri mereka sendiri, baik secara harfiah atau metaforis. Ini adalah foto klien di mana mereka sendiri memiliki kendali penuh dan kekuasaan atas semua aspek penciptaan gambar,

4) Album keluarga dan koleksi foto-biografi lainnya baik dari keluarga atau keluarga pilihan, baik yang secara formal disimpan dalam album atau tidak. Biasanya digabungkan dengan penempatan di dinding atau pintu kulkas, di dalam dompet atau bingkai desktop, di dalam layar komputer atau situs web keluarga, dan sebagainya.

5) Foto-projectives adalah jenis foto yang merangsang interpretasi pribadi dari pemirsa. Foto-projectives dapat berupa foto apa pun, tetapi biasanya foto yang ambigu atau terbuka untuk interpretasi. Cara seseorang menginterpretasikan foto-projectives ini mencerminkan realitas batin mereka sendiri. Realitas batin ini termasuk pikiran, perasaan, dan pengalaman mereka. Foto-projectives adalah foto yang merangsang pemirsa untuk melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Foto-projectives dapat membantu orang untuk melihat diri mereka sendiri dan orang lain dengan cara yang baru.

Penulis : Soffy Balgies, Psikolog
Penulis Buku Desain Intervensi Psikologi, Psikologi Konseling dan Psikologi Umum
Pelatih : Terapi CTC, SEFT for Total Healing, Emotional Intelligence & Fototerapi
Praktisi POY (Point of You) Level 1, International Trainer Certified BSN KAN